The “Cadel” Pastor

Pernah dengar cerita percakapan seorang tukang jual makanan keliling dengan pembeli yang salah sangka? Konon ceritanya begini.  Ketika ada seorang penjual makanan keliling memasuki sebuah komplek perumahan,  seorang pembeli datang,

Pembeli :  “Jual apa aja, om?”

Penjual :  “Macam-macam dek, ini baca menunya” sembil menunjuk daftar menu yang ditempel di gerobaknya.

Pembeli : “Om, aku beli nasi goleng satu polsi”

Penjual : “Apa?” “Nasi goyang sama polisi” Agak bingung.

Pembeli : “Ah, Om, ngejek ya?”

Penjual : “Bukan dek, Om kurang jelas”

Pembeli : “Aku, mau beli nasi goleng satu polsi” bicara pelan supaya si om-nya ngerti.

Pembeli “Oh… maksud adek, nasi goreng satu porsi….oalah”

Nah, si pembeli itu disebut “Cadel”, karena tidak bisa mengucapkan “R” dengan baik.  Orang cadel memang kadang kurang jelas bicaranya, misalnya si pembeli nasi goreng tadi, dia sama sekali tidak bisa mengucapkan “R” sehingga diganti mejadi “L”. Namun pada “level” tertentu, ada juga orang cadel yang bisa mengucapkan “R” tetapi dengan bunyi yang tidak terlalu jelas/bersih. Bunyinya itu kayak bunyi orang lagi ngorok. 🙂

Biasanya orang cadel itu suka minder, karena sering diejek. Bayangkan kalau suatu waktu dia di suruh bernyanyi “Balonku”, pas di lirik “rupa-rupa warnanya” akan berubah jadi “lupa-lupa walnanya” Duh….

Namun banyak juga orang cadel yang berhasil mengalahkan mindernya. Ketika kekurangan itu justru menjadi motivasi bagi mereka untuk maju, untuk menjadi orang yang tidak boleh dianggap remeh, bahkan malah diperhitungkan.  Tentu disini kita bicara tentang orang Indonesia. Kalau orang luar mah banyak yang “cadel’, tetapi itu karena bahasa mereka yang tidak menuntut pengucapan “R” seperti orang Indonesia.

Orang-orang cadel yang sukses berkarir, misalnya: Rico Ceper. Dia adalah seorang penyiar dan presenter. Mischa adalah salah seorang artis terkenal; Jacky, juga seorang artis. Lalu ada juga SN Ratmana, seorang guru dan juga penulis, dimana salah satu tulisannya adalah kumpulan cerpen “Dua Wajah dan Sebuah Sisipan”. Dan kalau tidak salah bapak Habibie juga agak cadel.

Dan satu diantara orang-orang yang berhasil menyingkirkan rasa minder karena cadelnya adalah Lomser Hutabalian, yaitu si “The Cadel Pastor”. Ia adalah seorang pembicara, pernah beberapa kali jadi interpreter pengkotbah dari luar negeri, penulis banyak artikel dan menjadi seorang pastor (Pendeta).

So..”cadel” bukanlah akhir dari segalanya, sekalipun nanti akan berakhir (die) sebagai “orang cadel” 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s