Maaf, Dia Tewas di Tanganku

Sudah lebih seminggu ini dia mengusik rumah tangga kami. Siapa yang mau terima bila keluarganya diusik? Ada saja tingkah lakunya yang membuat istriku kesel. Aku tidak tahu apa sebenarnya maunya. Beberapa cara sudah aku lakukan untuk mengatasi hal ini. Tetapi sejauh ini terus gagal.

Dan tadi malam, ketika aku dan istri sudah dalam pembaringan, dia datang lagi. Suaranya mengusik tidurku. Aku sudah tidak sabar lagi. Ketemui dia dengan rasa kesel dan ternyata dia tidak sendiri. Ada satu lagi yang bersama dengan dia. Kekesalanku yang sudah memuncak mendorong aku mengambil sebilah pisau. Melihat aku datang dengan pisau, mereka ketakutan dan berlari berpencar. Temannya sangat cepat berlari sedangkan dia mencoba bersembunyi.

Aku tahu dia bersembunyi dimana. Tak menunggu lama kutusukkan pisau kearahnya. Dan darahnya pun mulai menetes. Merasa terancam, dia pun berlari sebisanya, tetapi terus ku kejar. Sembari ku raih sebatang kayu yang panjang, ku kejar sambil ku pukul punggungnya. Dia mulai lemas tapi masih terus berusaha berlari. Aku pun tak menyerah. Aku kejar dia dan pukul berkali-kali di punggung dan kepalanya sampai ia akhirnya terkapar tak berdaya.

Ya.. tikus besar itu akhirnya tewas ditanganku. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s