“RELIGIOUSMEN” DAN OPERASI TANGKAP TANGAN (OTT)

“RELIGIOUSMEN” DAN OPERASI TANGKAP TANGAN (OTT)

Terjeratnya Patrialis Akbar dalam sebuah operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) cukup mengejutkan public. Selain karena Patrialis Akbar berprofesi sebagai penegak hukum yaitu menjadi hakim di mahkamah konsitutusi, jebolan S3 – Doktor (Hukum) Universitas Pajajaran, Bandung tahun 2012 ini juga dikenal religius.operasi-tangkap-tangan-kpk

Dari profile Patrialis Akbar di website Mahkamah Konstitusi, ada sederatan profesi/jabatan yang pernah dia emban sebelum menjadi Hakim Mahkamah Konsitusi, yang tentu saja profesi/jabatan itu tidak terlepas dari latarbelakangnya sebagai “ahli hukum” yang mengerti perundang-undangan dan konsekwensinya.

Deretan profesi/jabatan yang pernah didudukinya yaitu:

  • Dosen Universitas Muhammadiyah, Jakarta (1989 – 1992)
  • Pengacara dan Penasehat Hukum (1989 – 1999)
  • Wakil Ketua Fraksi Refomasi DPR RI; Anggota Panitia Ad Hoc I BP MPR RI; Anggota Komisi II DPR RI, dan Kuasa Hukum DPR RI (1999 – 2004)
  • Ketua Fraksi PAN MPR RI; Pimpinan Sub Tim Kerja I MPR RI; Anggota Komisi III DPR RI; Kuasa Hukum DPR RI; dan Juri Cerdas Cermat UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 tingkat SLTA se Indonesia (2004 – 2009)
  • Menkumham RI KIB II (Okt 2009 – Okt 2011)
  • Anggota Kompolnas (Okt 2009 – Okt 2011)
  • Komisaris Utama PT. Bukit Asam Tbk (Des 2011 – Juli 2013)
  • Hakim Konstitusi (2013-2018).

Doktor bidang hukum, menjabat sebagai penegak hukum dan dikenal religious ternyata tertangkap tangan sedang melakukan pelanggaran hukum.

Kenapa?

Rupanya kabar ini juga menjadi tambah mengagetkan karena ternyata salah seorang yang di tangkap dalam OTT itu adalah Basuki Hariman yang disebut-sebut sebagai penyuap.

Siapakah Basuki Hariman?

Salah seorang Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam jumpa pers, Kamis, 26 Januari 2017, menyebut bahwa Basuki adalah pengusaha impor daging yang memiliki 20 perusahaan. “Perusahaan Basuki memang banyak apakah atas nama diri sendiri atau yang lain,” katanya. Basuki diduga memberikan suap kepada Patrialis US$ 20 ribu dan Sin$ 200 ribu atau setara Rp 2,15 miliar. Suap itu ditujukan untuk mempengaruhi putusan MK terhadap permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dia seorang pengusaha. Hm…tentu hal itu tidak mengagetkan. Pengusaha memang cenderung berusaha memperoleh untung yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya. Ada yang dengan cara yang benar, ada yang tidak. Namun bila dengan alasan ini, tentulah bukan hal yang mengagetkan. Lalu kenapa?  Karena selain pengusaha, Basuki Hariman juga disebut sebagai seorang Pendeta.

operasi-tangkap-tangak-kpk-2Dari berbagai informasi menyebutkan bahwa Basuki Hariman adalah seorang pendeta, bahkan sekaligus ketua Sinode Gereja Bethel Pembaruan. Gereja Bethel Pambaruan merupakan gereja yang dibentuk setelah memisahkan diri dari Gereja Bethel Indonesia. Informasi ini diperkuat dengan beredarnya foto-foto mirip Basuki Hariman sedang melakukan aktivitas pelayanan gereja dan memimpin peribadatan.

Saya sendiri tidak mengenal Basuki Hariman, dan tidak tahu apakah benar dia adalah seorang pendeta sekaligus ketua sinode. Namun kalau informasi ini benar, sungguh sangat memprihatinkan.  Bagaimana mungkin seorang yang biasa mengkotbahkan tentang iman, kebenaran, kejujuran, moralitas, kasih, dsb adalah seorang yang terlibat dengan kasus yang justru bertentangan dengan apa yang di kotbahkan.

Kenapa?

Entah siapa yang akan menjawab pertanyaan itu.  Namun saya ingin memberi pendapat bahwa “cinta akan uang”lah yang menggelapkan mata orang-orang yang seperti itu. Dan “cinta akan uang” itu bukan datang serta merta dalam diri seseorang, juga bukan bawaan lahir, melainkan mengalami proses.  “Cinta akan uang” adalah bukti kerakusan, dan orang yang rakus adalah orang tidak mau belajar bersyukur dengan apa yang dia miliki.

Meski setiap manusia sudah memiliki kecenderungan berdosa, namun untuk menjadi orang jahat tidak datang serta merta.  Bagaikan tumbuhan yang disiram dan di pupuk untuk bertumbuh, seperti tubuh manusia yang harus mendapat supply makanan untuk bertumbuh, demikianlah sifat manusia terbentuk dan sifat itu mempengaruhi sikap atau tindakannya.

Dari perkara kecil ke perkara besar, dari kebaikan kecil ke kebaikan besar, dari korupsi kecil ke korupsi besar dan dari membiasakan diri seseorang menjadi terbiasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s