THE POWER OF “ANDALIMAN”

Seminggu setelah “sangge-sangge” viral, saya terpikir untuk menulis artikel tentang “andaliman”. Namun karena sibuk dengan berbagai kegiatan kemudian niat itu tertunda dilaksanakan. Rupa-rupanya pagi ini, di wall facebook bapak presiden Joko Widodo menyebut “andaliman” dalam sebuah pantun yang dibacakannya. Tetapi karena membaca postingan ini saya jadi semangat membuat sedikit “oret-oret”

Isi pantun bapak presiden yang disampaikan ketika meresmikan sepanjang 52 kilometer jalan tol di sumatera utara itu seperti ini:

Ikan arsik bumbu andaliman,
rasanya lezat tiada tara.
Sudah dibangun jalan tol yang nyaman,
ayo maju Sumatra Utara.

Sebelum saya menulis lebih jauh, saya ingin membalas pantun dari bapak presiden yang saya hormati ini, sekaligus saya lewat pantun ini saya mau mengapresiasi karya bakti dari beliau.

Pergi kepasar beli mujahir
Mujahir di masak bumbu andaliman
Seorang besar sudahlah terlahir
Wujud karyanya adalah pembuktian

Apa itu “andaliman”?

Dalam beberapa jenis masakan khas Batak, “andaliman” selalu ditambahkan ke dalam bumbu masakan untuk menghasilkan rasa pedas yang khas. Selain pada beberapa olahan daging, “andaliman” juga digunakan untuk masakan arsik yaitu seperti pepes ikan tanpa di bungkus.andaliman

Wikipedia menyebutkan bahwa andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) adalah sebuah spesis tumbuhan berbunga dari keluarga Citrus.
Sensasi rasa yang ditimbulkan oleh “andaliman” selain rasa pedas yang “menggigit” sehingga lidah serasa bergetar halus, juga menimbulkan kelu di lidah.

Meskipun di Indonesia dikenal sebagai bumbu khas Batak, tetapi beberapa negara di Asia; seperti China, Jepang, dan lain-lain, juga sudah mengenal dan menggunakan “andaliman” ini; tentu dengan sebutan yang berbeda-beda – sebagai bumbu masakan. Di China, “andaliman” bahkan sudah ditambahkan dalam bentuk biji-biji utuh (tidak digiling) ke makanan ringan seperti kerupuk/chiki kemasan. Hal itu saya ketuhui ketika seorang teman yang berlibur ke China membawa oleh-oleh dari China berupa makanan ringan.

arsik andaliman

Nah, berbicara tentang “andaliman”, saya jadi teringat kisah lama ketika saya buru menikah. Sebagai orang batak tentu lidah saya sudah terbiasa dengan andaliman dalam banyak jenis masakan khas Batak, termasuk ikan yang dimasak arsik tadi. Namun setelah menikah, diawal-awal pernikahan isteri saya tidak menambahkan “andaliman” ke ikan masak arsik yang diolahnya. Hal itu terjadi karena pada masa itu, di perantaun kami (Batam) memang tidak mudah mendapatkan “andaliman” karena harus di kirim dari sumatera utara, sedangkan pengangkutan pun waktu itu masih jarang dan tergolong mahal.

Setiap isteri saya memasak arsik, selalu saya merasa ada yang kurang. Dan rasa menjadi kurang sedap. Pada saat yang sama saya akan selalu teringat dan membandingkan masakan arsik ibu saya di kampung yang nikmatnya luar biasa. Untunglah di tahun-tahun berikutnya “andaliman” sudah mulai mudah ditemukan di pasar atau warung-warung, sehingga saya tidak perlu selalu terkenang dengan masakan ibu saya yang sudah mendiang. 🙂

Andaliman. Ketika kita menggigitnya, lidah kita pun terasa digigitnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

 (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s